Ga kerasa, udah lima taun lebih aku berada dalam
lingkaran kecil ini ... Kalo ga salah, pertama kali kenal
namanya saat akhir kelas tiga SMP. Tapi, mulai ikutan waktu masuk SMA. Bingung
juga, apaan ini. Bikin kelompok kecil bareng temen-temen tiap pekan, terus ada
teteh yang ngasih materi macem-macem. Trus, disuruh utk membiasakan ngaji tiap
hari, disepakati mau berapa lembar tiap harinya. Disarankan juga untuk
merutinkan amalan sunnah yang laen. Berusaha menikmati aja... Bismillah.
Kalo ga skr, kapan lagi? Hati kecilku berusaha memotivasi. Untuk membiasakan
diri memang terkadang diperlukan paksaan. Pikirku, lebih baik didorong dengan
keras untuk menujuNya daripada dituntun dengan manis untuk menjauhiNya.
Ternyata, lama-lama aku ketagihan. Satu minggu aja
kelewat, bikin aku kangen sm teteh dan temen2ku. Aku pengen selalu diingatkan
dan dapet ilmu baru. Yang aku ga ngerti, ikatan hati mulai terjalin. Walau
aku sering gonta-ganti temen dan teteh, aku selalu tetap merindukannya. Dengan
kelompokku yang terakhir di SMA, banyak banget kenangan yang aku dapet :
menangis dan tertawa bersama, mewujudkan acara muslimah yang cukup gede utk
ukuran kotaku, masak bareng, jualan buku, nge-danus, latihan basket krn kena
remedial trs dilanjutin foto bareng (jadinya, pas org liat foto itu : ”wah,
jago basket ya?” padahal ... :p), and many more... Jadi kangen :( Kini kita
telah bertebaran di bumi mencari rahmatNya. Smg tetap dalam harapan yg sama :
kita berkumpul lagi di surgaNya, trus kita membuat lingkaran dan... mentoring
lagi deh... (Oo.. mentoring tho...)
Seiring berjalannya waktu aku mulai mengendapkan apa yang aku dapet dari
lingkaran ini. Dan akhirnya membentuk
cara pandangku yang baru tentang kehidupan, dan Islam tentunya. Bahwa dunia
hanya sementara, dan kita diciptakan to do the best sbg bekal kita dlm
kehidupan yang hakiki kelak. Dan dengan indahnya, Islam hadir untuk menuntun
kita dalam mengarungi arena perburuan bekal ini ... :)
Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa mentoring adalah
sarana pendoktrinan, atau bahasa seremnya : brain
wash. Tapi buatku, mentoring adalah salah satu anugerah terindah yang
diberikanNya karena di sini aku mulai mengenal siapa diriku, untuk apa aku ada
di dunia, trus sebenernya aku mau ke mana sih setelah dunia fana ini berakhir. Dan,
yang ga kalah pentingnya, aku bertemu dengan orang-orang terbaik yang
dianugerahkanNya untukku. Aku ga bisa ngebayangin, kalo dulu aku tetep males2an
ikut mentoring, mungkin skr aku masih ga punya pandangan yang menyeluruh tentang
hidup. Alhamdulillah... Walaupun skr bkn berarti aku dah 100% bisa memandang
kehidupan dg utuh. Masih terus belajar ...
Trus, kenapa aku berani mengambil tanggung jwb sbg
seorang mentor? Wuih... Sebenernya alasannya sederhana, aku hanya ingin berbagi
keindahan Islam dengan adik mentorku. Menurutku, setiap org berhak merasakan
indahnya Islam dan aku pengen belajar juga dari mereka krn aku yakin setiap org
punya potensi kebaikan. Harapanku, semakin banyak aku berinteraksi dengan adik
mentorku, semakin banyak juga transfer ilmu dan kebenaran yang terjadi antara
kami. Mentoring memang bukan satu-satunya cara untuk mentransfer ilmu dan
kebenaran. Tapi menurutku, metode ini cukup efektif karena kontinu, terarah,
dan ... asyik :p
Katanya, jadi mentor itu berat, krn harus melakukan
setiap apa yang dinasihatkan kpd adik. Selain itu, hrs punya ilmu yg banyak.
Tapi, bukankah setiap manusia harusnya kyk gitu ya? Konsisten dengan ucapannya
dan selalu menuntut ilmu sampe ditakdirkan berpisah dengan dunia. Harapanku,
aku tetap ditakdirkan untuk berada dalam lingkaran kecil ini, sbg mentor dan
adik mentor. Di sini aku belajar untuk mendengar dan didengar, memberi dan
diberi, memahami dan dipahami, mengingatkan dan diingatkan... Because I’m only
an ordinary people.
Dan, dari
sinilah semuanya bermula ...
---------------------
Mengenang saat-saat itu, dan mencoba menemukan kembali
semangat ketika melakukan ’lompatan besar’